Rabu, 31 Juli 2019

manajemen pembelajaran


TUGAS
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Manajemen Pembelajaran

Description: Description: wps_clip_image-7506

Oleh:
Sintia Sari      1620237
7.6


Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M. Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019


A.    Konsep Manajemen Pembelajaran
konsep manajemen pembelajaran dapat diartikan proses mengelola yang meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian (pengarahan) dan pengevaluasian kegiatan yang berkaitan dengan proses membelajarkan sipembelajar dengan mengikutsertakan berbagai faktor di dalamnya guna mencapai tujuan. Dalam “memanajen” atau mengelola pembelajaran, manajer dalam hal ini guru melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan. Pengertian manajemen pembelajaran demikian dapat diartikan secara luas dalam arti mencakup keseluruhan kegiatan bagaimana membelajarkan siswa mulai dari perencanaan pembelajaran sampai pada penilaian pembelajaran. Pendapat lain menyatakan bahwa manajemen pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran yaitu strategi pengelolaan pembelajaran.
Manajemen pembelajaran termasuk salah satu dari manajemen implementasi kurikulum berbasis kompetensi. Manajemen yang lain adalah manajemen sumber daya manusia, manajemen fasilitas, dan manajemen penilaian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal menajemen pembelajaran sebagai berikut; jadwal kegiatan guru-siswa; strategi pembelajaran; pengelolaan bahanpraktik; pengelolaan alat bantu; pembelajaran ber-tim; program remidi dan pengayaan; dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Pengertian manajemen di atas hanya berkaitan dengan kegiatan yangterjadi selama proses interaksi guru dengan siswa baik di luar kelas maupun didalam kelas. Pengertian ini bisa dikatakan sebagai konsep manajemen pembelajaran dalam pengertian sempit.
Sebelum menyimpulkan beberapa uraian para pakar tentang pengertian manajemen pembelajaran, ada baiknya kita membaca uraian singkat pengertian manajemen pembelajaran menurut Ibrahim bafadhal. Menurutnya, Manajemen pembelajaran adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalamrangka tercapainya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Manajemenprogram pembelajaran sering disebut dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran.
Pada dasarnya manajemen pembelajaran merupakan pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik dikategorikan berdasarkan kurikulum inti maupun penunjang berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya, oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional. Dengan berpijak dari beberapa pernyataan di atas, kita dapat membedakan konsep manajemen pembelajaran dalam arti luas dan dalam arti sempit. Manajemen pembelajaran dalam arti luas berisi proses kegiatan mengelola bagaimana membelajarkan sipembelajar dengan kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan atau pengendalian dan penilaian. Sedang manajemen pembelajaran dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang perlu dikelola oleh guru selama terjadinya proses interaksinya dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.
Konsep Manajemen jika diterjemahkan dalam kegiatan pembelajaran, menurut syaiful Sagala diartikan sebagai suatu usaha dan tindakan kepala sekolah sebagai pemimpin intruksional di sekolah dan usaha maupun tindakan guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas dilaksanakan sedemikian rupa untuk memperoleh hasil dalam rangka mencapai tujuan prrogram sekolah dan pembelajaran.
Pembelajaran adalah proses interaktif yang berlangsung antara guru dan siswa atau juga antara sekelompok siswa dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap serta memantapkan apa yang dipelajari itu. Dalam mengelola pembelajaran, guru sebagai manajer melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.
B.     Tujuan Manajemen pembelajaran
Tujuan manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karen manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal.
Apabila dikaitkan dengan pengertian manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat mencapai tujuan. Adapun tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pokok mempelajari manajemen pembelajaran adalah untuk memperoleh cara, teknik dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Nanang Fattah berpendapat bahwa:
Tujuan ini tidak tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti peningkatan mutu pendidikan/lulusanya, keuntungan/profit yang tinggi, pemenuhan kesempatan kerja membangun daera/nasional, tanggung jawab sosial. Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman.
Secara rinci tujuan manajemen pendidikan antara lain:
1.      Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).
2.      Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dannegara.
3.      Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
4.      Terbekalinya tenaga pendidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan.
5.      Teratasinya masalah mutu pendidikan.

C.    Kebijakan Tentang Manajemen Pembelajaran
Kebijakan peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran harus selalu diupayakan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun komponen lain yang terlibat dalam proses tersebut. Guru sebagai komponen utama dalam proses pengajar rnemegang posisi kunci dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Idealnya, dalam setiap proses pembelajaran, guru dituntut mampu melibatkan berbagai unsur pendukung mengajar yang dibutuhkan agartercapainya hasil dengan optimal.
Tinggi rendahnya mutu pendidikan pada suatu sekolah, ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu komponen yang bertanggungjawab terhadap mutu pendidikan adalah guru. Realitas ini tidak dapat dipungkiri bahwa indikator keberhasilan pendidikan senantiasa terkait dengan kompetensi guru sebagai pemegang posisi kunci dalam pembelajaran di sekolah.
Guru dituntut mampu melibatkan berbagai unsur pendukung mengajar yang dibutuhkan agar tercapainya hasil dengan optimal.  Proses melibatkan unsur pendukung mengajar merupakan salah satu strategi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran di sekolah dasar akan optimal, apabila supervisor sering melakukan kegiatan supervisi terhadap guru-guru.
Guru yang mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, ia dikatakan sebagai guru yang profesional. Farichin (2014) bahwa seorang guru harus mampu menerapkan dan menetapkan strategi-strategi demi tercapainya tujuan pembelajaran.Apabila mampu, menerapkan strategi yangbaik dalam pembelajaran, maka ia menjadi salah satu indikator guru profesional. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan penulis memilih judul ini untuk mengkaji bagaimana manajemen pembelajaran yang baik diterapkan pada sekolah dasar oleh guru yang efektif.

D.    Peran Guru Dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1.      Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya pasif menerima.


a.       Kelas terbuka
Kelas dapat terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan model ini dapat dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 sama atau diterapkan di kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam pelajaran Bahasa Indonesia, maka seluruh guru mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa masuk ke kelas di mana siswa menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian ada siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada waktu Matematika masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V. Konsep ini mengikuti perkembangan masing-masing individu.
b.      Kelas dua tingkat
Konsep ini dilaksanakan dengan cara seorang guru menghadapi kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi berdekatan, misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c.       Kelas awal
Pembelajaran dengan pendekatan integral atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan secara artificial, bila dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satumodel pembelajaran yang utuh sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami. Hal ini terjadi karena anak belajar secara keseluruhan dalam hubungan dengan kehidupan akan lebih mudah dibanding belajar dengan pemisahan-pemisahan secara artifisial yang tak bermakna.

2.      Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
a.       Seating chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
b.      Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c.       Tapal kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.

3.      Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku. Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.

4.      Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu: (a) menata ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik (Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna, (b) penataan meja guru, gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an indah.

5.      Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya.

E.     Kode Etik Guru
1.      Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
2.      Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
3.      Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindari diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4.      Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5.       Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6.      Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
7.      Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
8.      Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
9.      Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.





















Daftar Pustaka

Bafadhal. 2004. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistim Jakarta : PTBumi Aksara.
Husaini Usman. 2006. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nanang Fattah. 2004. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Padmono, Y. 2011. Manajemen Kelas. Salatiga: Widyasari.
Syaiful Sagala. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.



Senin, 29 Juli 2019

tugas e-book manajemen kelas di SD


RESUME
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
e – Book Berkaitan dengan
Menjelaskan Prinsip Belajar Mengajar dan Keterampilan Dalam Mengajar




Di Susun Oleh :
Sintia sari
:
1620237


Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M.Pd

PROGRAM  STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2019

Resume E – BOOK Berkaitan dengan
Menjelaskan Prinsip Belajar Mengajar
dan Keterampilan Dalam Mengajar di SD

A.    Prinsip belajar dan mengajar
Prinsip-prinsip tersebut mencerminkan pandangan pedagogi yang berpusat pada prinsip-prinsip berikut:
1.      Berinteraksi dengan   siswa  bahwa   aku sebagaimana   pertanyaan Anda   dan   menanggapi de-ide siswa dan menanggapi beragam latar belakang dan minat siswa.
2.      Menciptakan iklim sosial dan intelektual.
3.      Membingkai   konten   sekitar   Sebuah   seri   dari   tugas   untuk   menjadi   lengkap   atau sebagai keterampilan yang ditinjau dan dibangun
4.      Menciptakan    dan beroperasi    sebagai Profe   ssional L   penghasilan    Tim, yang mana    akan percakapan yang kaya dan produktif

Menurut buku pedoman PoLT 2006 prinsip-prinsip belajar dan mengajar dimaksudkan untuk
1.      mengembangkan bahasa pedagogi bersama berdasarkan sekitar enam Prinsip
2.      mengembangkan wawasan ke dalam strategi dan kegiatan kelas yang sesuai untuk masing-masing Prinsip
3.      membahas contoh-contoh Prinsip tertentu dalam praktiknya saat ini;  dan
4.      mengembangkan proses atau rencana untuk memperluas Prinsip di sekolah mereka, sebagai potensi inisiatif atau serangkaian inisiatif (Departemen Pendidikan dan Pelatihan, 2005)



B.     keterampilan mengajar
            Mengajar adalah hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan dan guru yang baik dibutuhkan di mana-mana: di sekolah dan ruang kelas perguruan tinggi untuk mendidik kaum muda, serta di tempat kerja dan pengaturan lain untuk mengajar orang dewasa dan kolega.
            Guru satu-satu dapat mengajari seseorang dalam mata pelajaran tertentu atau untuk pengembangan pribadi mereka yang lebih luas. Namun, mengajar siapa pun juga bisa melelahkan, membuat stres, dan menuntut. Ini adalah tanggung jawab dan slip up sangat terlihat. Pikiran dan motivasi orang sangat bervariasi dan guru harus menemukan banyak cara berbeda untuk berhubungan dengan siswa mereka. Mengajar tidak selalu diakui sebagai tugas yang sulit dalam hal status atau imbalan finansial.
           
            Selain pengetahuan mata pelajaran, ada beberapa kualitas lain yang lebih umum yang dibutuhkan guru.
Sebagai seorang guru, Anda harus:
1.      Nikmati mengkomunikasikan pemahaman Anda kepada orang lain.
            Pasti ada elemen kinerja untuk sebagian besar pengajaran. Bagian kami tentang keterampilan antarpribadi , termasuk berbicara yang efektif , membahas hal ini secara lebih rinci, dan ada banyak tumpang tindih dengan keterampilan presentasi.

2.      Memiliki kepercayaan diri.
            Anda akan membutuhkan kepercayaan diri untuk terlihat tenang dan profesional bahkan ketika lelah dan stres.

3.      Memiliki keterampilan organisasi yang hebat.
            Sudahkah Anda bersiap untuk sesi dan melakukan penandaan waktu? Sudahkah Anda menyimpan apa yang dibutuhkan untuk siapa pun dalam kelompok yang pergi? Jika Anda adalah bagian dari organisasi pengajaran, sudahkah Anda memberi umpan balik kepada kolega yang tertarik?

4.      Bekerja secara efektif dalam kelompok.
            Di sekolah atau perguruan tinggi, Anda mungkin menjadi bagian dari kelompok yang mengajar di tingkat Anda atau dalam mata pelajaran Anda. Jika demikian, Anda harus menyetujui di antara Anda apa yang harus diajarkan dan bagaimana menghadapi kesulitan.

5.      Mampu menangani konflik.
            Mungkin ada siswa yang perlu diberitahu untuk bekerja lebih keras, atau ketidaksepakatan antara siswa yang perlu Anda bantu untuk memilah.

6.      Memotivasi siswa Anda untuk melakukan yang terbaik.
            Ini mungkin memerlukan dorongan dan / atau kritik, dan mungkin sedikit dari keduanya pada waktu yang berbeda.

7.      Berempati dengan Siswa Anda.
            Jika Anda dapat melihat bahwa siswa Anda kelelahan, mungkin tidak ada gunanya mencoba mengajarkan topik yang sangat rumit. Anda perlu menciptakan perasaan bahwa Anda semua bekerja bersama menuju tujuan yang sama. Ini berarti membangun kepercayaan dan hubungan.

8.      Berikan umpan balik.
            Apakah ini berupa komentar pada kinerja atau menandai karya tertulis, itu harus konstruktif. Tawarkan pujian serta kritik jika memungkinkan dan beri tahu siswa Anda bagaimana mereka dapat meningkat.






Daftar pustaka
Departemen Pendidikan dan Pelatihan, 2005


Sumber ebook



membina hubungan sekolah dengan masyarakat dalam melaksanakan disiplin kelas

TUGAS MANAJEMEN KELAS di SD Tentang Membina Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat Dalam Melaksanakan Disiplin Sekolah Oleh: ...