TUGAS
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA

Oleh:
Sintia Sari 1620237
7.6
Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M. Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
A. Kebijakan Penanganan Masalah Dalam Manajemen Kelas
1.
Melakukan pendekatan terhadap siswa
2.
Pencarian data tentang siswa
3.
Melakukan konsultasi secara pribadi
B. Macam-Macam Permasalahan Dalam Manajemen Kelas
1.
Masalah individu
Masalah
individu akan muncul karena dalam setiap individu ada kebutuhan untuk diterima
dalam kelompok dan ingin mencapai harga diri. Ketika kebutuhan ini tidak dapat
terpenuhi melalui cara-cara yang wajar maka individu tersebut akan berusaha
mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Rodolf Dreikurs dan Cassel
yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni mengelompokannya menjadi empat,
yaitu:
a.
Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang
lain ( attention getting behaviors).
b.
Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power
seeking behaviors).
c.
Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
(revenge seeking behaviors).
d.
Peragaan ketidakmampuan (passive behaviors).
2.
Masalah Kelompok
Masalah
kelompok, menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori
masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
a.
Kelas kurang kohensif.
b.
Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang
anggotanya.
c.
Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah
disepakati sebelumnya.
d.
Membesarkan
hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
e.
Kelompok
cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
f.
Semangat kerja rendah.
g.
Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
C. Solusi Dalam Mengatasi Permasalahan Manajemen Kelas
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa
pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
1.
Behavior –
Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku
“baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku
dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement
(untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk
mengurangi perilaku negatif). Namun demikian,
dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati,
karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
2.
Socio-Emotional
Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar
mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara
peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki
posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru
(realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik
sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari
sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding).
Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru
berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan
mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang
perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
Selain itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu
mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi;
menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan
peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat memupuk
keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta
didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Sementara
itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom
Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul
tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara
bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.
3.
Group
Process Approach : Asumsi yang
mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung
dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara
kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A.
Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses,
yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction
(pola persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness.
4.
Pendekatan
Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat
kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.
Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah
disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan
kelas, maka perlu adanya pendekatan:
a.
Perintah dan
larangan
b.
Penekanan
dan penguasaan
c.
Penghukuman dan pengancaman
d.
Pendekatan perintah dan larangan
5.
Pendekatan
Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat
kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat
menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai
bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan
segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu
sebagai berikut:
a.
Tindakan
pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan
pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
b.
Meremehkan
sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
c.
Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
d.
Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang
sebenarnya.
e.
Menukar
kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
f.
Mengalihkan
tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
6.
Pendekatan
membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu
dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”,
demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan
lagi kalau selama peserta didik bekerja
sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu
habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah
bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah
dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua
pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap
serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.
Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu Dan Tri Prasetya, Joko. 2005. Strategi
Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Hamalik, Oemar, Perencanaan Pengajaran
Berdasarkan Pendekatan Sistem, cet. II. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003.
Bagus artikelnya kak
BalasHapusblognya menarik
BalasHapusseperti apa bentuk pemberian kebebasan belajar yang baik terhadap siswa?
BalasHapusbagaimana caranya menyikapi kesulitan siswa dalam belajar?
BalasHapus